![]() |
| Susaningtyas Nevo Handayani |
"Terserah,
apa pun sebutan untuk gue. Mau perempuan satu-satunya pengamat intelijen atau apa, terserah mau apa gue disebut"
LIBASS - Perempuan pengamat politik jumlahnya banyak. Perempuan
pengamat hukum juga bejibun. Tapi, perempuan pengamatan intelijen, Susaningtyas
Nefo Handayani Kertopati, boleh disebut satu dari sedikit orang. "Terserah, apa pun sebutan untuk gue. Mau perempuan
satu-satunya pengamat intelijen atau apa, terserah mau apa gue disebut,"
kata Nuning saat berbincang dengan JurnalParlemen. Ia ceplas-ceplos seperti
seolah berbicara dengan teman akrab.
Karena konsentrasi pada bidang intelijen, Nuning, sapaan
akrabnya, kerap menjadi narasumber media bila isu terorisme sedang hangat.
Salah satu pemikirannya adalah tentang tahanan terorisme. Ia mengusulkan mereka
dipenjara di tahanan militer. Selain terjamin keamanannya, narapidana di situ
bakal dibina oleh Dinas Pembinaan Mental TNI yang memiliki ahli doktrin yang
mampu membuka kotak pandora dalam pikiran para teroris. Sehingga paradigma
pemikiran teroris bisa diubah.
Penangangan tahanan terorisme oleh TNI juga berpayung
hukum pada UU Terorisme. Disebutkan, TNI juga bertanggung jawab dalam
penanganan masalah terorisme dan pengendalinya adalah BNPT. “Pengawasan lebih
terjamin, dan dari segi disiplin pengawasan lebih kredibel. Dari aspek
pembinaan mental mereka kan selama ini militan karena didoktrin. Cocok dengan
militer yang sama militan karena doktrin,” katanya.
Berbincang dengan Nuning seolah tiada jarak. Bicaranya
mengalir deras. Bahasanya lugas. Gayanya egaliter. Pun jika ia ingin meluruskan
informasi. "Apa yang pernah kamu tulis itu salah, lho. Masa saya
digambarkan sibuk atau kasak-kusuk soal pemilihan KPI. Lha, kasak-kusuk
bagaimana? Saat pemilihan, mana calon petahana KPI pun gue nggak tahu,"
katanya memprotes sebuah pemberitaan media ini.
Belum sempat protes itu dijawab dengan lengkap, ia
langsung beralih tema lain. "O ya, kamu nanti saya undang ya. Aku mau
meluncurkan buku cetakan yang kedua, 30 Agustus. Pasti gue undang," kata
anggota DPR dari Fraksi Hanura Dapil Jawa Tengah 4 yang meliputi Kabupaten
Wonogiri, Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sragen ini. "Buku gue laris
manis, lho," tambahnya.
Buku yang dimaksud Nuning adalah disertasinya pada
program doktoral Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung yang berjudul
"Komunikasi dalam Kinerja Intelijen Keamanan". Sejumlah elite TNI dan
Polri memuji buku karya anggota Komisi I DPR ini.
Sebut saja misal, Kapolri Jenderal Timur Pradopo, Kepala
Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Marsetio, Kepala Badan Intelijen Negara Letjen
TNI Marciano Norman, dan Wakil Menteri Pertahanan Letjen (Purn) TNI Sjafrie
Sjamsoeddin.
"Buku ini sangat menarik dan penting karena membedah
perspektif tentang sistem dan mekanisme komunikasi intelijen, utamanya sebagai
hulu dari proses pengambilan keputusan sehingga memberi manfaat, memperkaya,
dan sekaligus mencerahkan pemahaman tentang perilaku intelijen yang sering
dikonotasikan bersisi gelap dan selalu penuh konspirasi," puji Marciano
Norman.
Tanpa bermaksud sombong, Nuning berpromosi, "Buku
gue laris manis, lho.” Di sejumlah toko buku di
Bandung dan Yogyakarta, buku itu ludes dibeli. Maklum, inilah buku paling
lengkap bicara soal intelijen, terutama dari aspek komunikasi.
"Mulai dari komunikasi formal dan informal dalam
intelijen ada dalam buku gue. Wartawan pun bila ingin mendalami ilmunya terkait
intelijen dalam kegiatan di Polri atau TNI tinggal baca buku gue. Ini untuk
semua kalangan," katanya.
Nuning sekolah di SD Yasporbi II Jakarta, SMP Asisi
Jakarta, SMAN 70 Bulungan Jakarta, lalu S-1 Jurusan Kesejahteraan Sosial
Universitas Indonesia. Ia lantas melanjutkan pendidikan S-2 di program Pasca
Sarjana Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, kemudian S3 Ilmu
Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung. Sempat menjadi anggota Komisi III
DPR yang membidangi Hukum, HAM, Keamanan. Pada 2010 Fraksi Partai Hanura
menugaskannya untuk konsentrasi di Komisi I yang mengurusi bidang Pertahanan,
Luar Negeri dan Informasi. Pada DPR periode lalu, ia merupakan wakil rakyat
dari PDIP.
Nuning terjun ke politik setelah sudah mapan di dunia
bisnis. Ia tercatat antara lain sebagai Komisaris PT Netwave Maju Abadi (2008 -
sekarang), Senior Adviser PT Cipta Busana Jaya (1999 - sekarang),
Direktur Komunikasi/Advisor Texmaco Grup (1997-1999), PR Manager Texmaco Grup
(1996-1997), serta Marketing & Public Relation beberapa perusahaan dan
perbankan di tahun 1989 hingga 1996.
