 |
| Direktur CIIA Harits Abu Ulya |
LIBASS - Di awal tahun 2014, seluruh masyarakat
Indonesia disuguhi penggerebekan terduga teroris oleh Densus 88 di Ciputat
Tangerang. Namun, banyak kejanggalan dalam aksi penggerebekan teroris tersebut.
Direktur The Community Of Ideological Islamic Analyst, (CIIA) Harits Abu
Ulya membeberkan sejumlah kejanggalan dalam aksi penggerebekan tersebut. Kata
dia, "Ada Dusta di Ciputat."
Dia menyebut, aksi Densus 88 tersebut cukup demonstratif. "Kenapa
demonstratif? faktanya, sore 31 Desember 2013, sekitar jam 17.00 WIB, beberapa
media yang dekat dengan Densus88 sengaja dikabari untuk meliput “heroisme” yang
akan digelar malam tahun baru. Untuk apa menginformasikan ke media TV kalau
bukan untuk medapat liputan kemudian diharapkan bisa menyiarkan secara luas
dengan segala efek turunannya," kata Harits, Senin (13/1/2014).
Menurut Harits, berdasarkan investigasi (penelusuran) CIIA, ada sejumlah fakta
empirik yang sangat janggal. Dia menuturkan, tanggal 31 Desember hari Selasa
sore sekitar pukul 17.00 WIB salah satu kru media TV mendapat informasi dari
petugas untuk merapat di Ciputat. "Tidak lain untuk meliput aksi
penggerebekan terduga perampok BRI Panongan Kab Tangerang (24 Desember
2013)," katanya.
Sumber CIIA, kata Harits, menyebutkan, awalnya penggerebekan akan dilakukan
oleh Unit Jatanras Polda Metro Jaya di bawah komando AKBP Herry Heryawan.
Namun, di luar sepengetahuan Herry Heryawan, informasi rencana penggrebekan
tersebut sampai di telinga Kapolri Jenderal Sutarman.
Kemudian, via telefon Sutarman memerintahkan agar Herry Heryawan tidak
bergerak, karena menunggu Mabes dengan Densus88 yang akan turun. "Akhirnya
operasi penggrebekan tidak lagi di handle oleh Unit Jatanras tapi di
bawah kendali Densus 88," katanya.
Selama ini, kasus penembakan di Pondok Aren dan penembakan polisi di depan KPK
yang difungsikan maksimal adalah unit Resmob dan Jatanras. Terkait Ciputat,
sebelumnya publik sempat mendapatkan informasi resmi melalui Direktur Reserse
Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Slamet Riyanto pada tanggal 16
September 2013 bahwa Nurul Haq alias Jeck sudah ditangkap.
"Dan ketika dikonfirmasi ulang kemudian tidak mau membeberkan karena
pertimbangan penyidikan," katanya.
Lantaran merasa kecolongan membuka informasi tentang Jeck, atasan Slamet
Riyanto membantah informasi tersebut. Di kesempatan berbeda di hari yang sama,
16 September 2013, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto menimpali
dengan bantahan bahwa Nurul Haq alias Jeck belum ketangkap.
Kemungkinan besar dari Jeck yang sudah ketangkap inilah pengembangan dilakukan
dan berhasil menghendus posisi Anton alias Septi di Banyumas. Kemudian Resmob
Polda Metro Jaya bersama Densus88 menangkap Anton pada hari Selasa (31
Desember 2013). "Rasanya janggal jika di hari Selasa (31 Desember 2013) di
depan warnet Jalan alternatif Kemranjen Banyumas arah Purwokerto Anton
ditangkap, dalam waktu singkat dari Anton aparat Resmob bisa menghendus secara
akurat posisi 5 kawanan yang lain di Ciputat. Setelah sebelumnya katanya Anton
di bawa ke rumah daerah Rempoa ternyata nihil," ujar Harits.
Fakta di lapangan dan pengakuan aparat, ditemukan bahwa sudah sejak beberapa
hari sebelum penggrebekan, para petugas intel mondar-mandir di sekitar lokasi.
Bahkan, menurut pengakuan anggota Densus88 (yang tertembak di kakinya) sejak
pagi sudah stand by di lorong jalan yang mengarah ke rumah kontrakan terduga
teroris.
"Jadi Anton di saat penggrebekan dikeler ke lokasi untuk ikut memastikan
target, namun, dugaan kuat dari Jeck-lah posisi akurat di dapatkan. Anton
posisinya sebagai pengkonfirmasi," ujar Harits.
Indikasi lain, Kapolri Jendral Pol Sutarman, juga sempat mengungkapkan bahwa
kelompok Ciputat ini sudah di pantau sejak 2 Agustus 2013.
Penelusuran CIIA juga mendapatkan fakta, bahwa mereka (kel Ciputat)
nama-namanya sudah dikantongi oleh aparat Densus 88 sejak 2012. "Karena
mereka semua pernah hadir dalam sebuah pertemuan di Situgintung akhir Desember
2012 dan pertemuan ini bocor ke telinga Densus88. Dari sini Densus88 bisa
merilis narasi tentang kelompok Ciputat kaitannya dengan terorisme," ujar
dia.
Jadi, penggrebekan terencana serta mobilisasi kekuatan secara terencana sudah
disiapkan jauh hari, mungkin dalam bahasa Densus88 ini dikategorikan Deliberate
Assault (Penindakan Terencana) bukan Emergency Assault/Raid (Penindakan
Segera). Dari indikasi dan fakta-fakta aktual dilapangan mengarah bahwa ini
adalah Penindakan Terencana, bukan tiba-tiba. Meski mengagetkan publik di malam
tahun baru 2014 peristiwa ini di tonton.
"Dari sini wajar banyak muncul pertanyaan kenapa mereka tidak ditangkap
hidup-hidup? Atau dilumpuhkan dan dalam kondisi tetap hidup. Karena penting
untuk mengungkap kebenaran narasi terorisme terkait kel Ciputat ini,"
katanya.
Harits menambahkan, dari semua terduga teroris yang tewas, tidak ada jejak
penembakan, bahkan ditemukan luka lebam memar karena siksaan.
Selain itu, dari penelusuran CIIA di lapangan terpetakan, Malam dan kegelapan
banyak menyimpan “rahasia”. Saat penggrebekan aparat Resmob Polda Metro Jaya
dalam formasi “L”. Rumah kontrakan yang ukurannya 3x8 meter dengan posisi
menghadap ke selatan, sebelah barat bersebelahan tembok dengan kontrakan
tetangga. Ruang terbuka diposisi selatan dan timur dengan tumbuhan pohon Bambu.
Dan di luar pengepungan dengan formasi “L” melingkar dari Selatan rumah ke arah
Timur rumah yang di lakukan Resmob Polda Metro, Densus88 banyak berperan di
bagian (titik) lain.
Dari arah belakang rumah (Utara) dan di titik bagian Barat dari rumah tetangga
yang sudah dikosongkan tembok dijebol oleh Densus88 dengan peledak. Dan
tembakan-tembakan dari Resmob sebenarnya tidak memberikan efek kematian
melainkan kepanikan. Tapi detik-detik kematian kemungkinan besar di saat tembok
dijebol untuk akses masuk, dan penindak dari Densus88 masuk untuk
mengeksekusi mereka. "Tapi sangat ganjil, karena kalau terduga teroris
menurut keterangan polisi, mati semua saat penyerangan dan posisinya di kamar
mandi kenapa tidak ada indikasi sama sekali tembakan dari luar yang tembus
kedalam? Justru banyak sekali jejak bekas tembakan yang terlihat di dalam
tembok kamar mandi," kata dia.
Tembakan dari luar mengarah kamar mandi terlihat di tembok luar bagian selatan setinggi
kurang lebih 30-40 cm dari bawah tapi tidak tembus ke dalam. "Teka teki
berkembang, apa mungkin mereka dalam kondisi tidak berdaya kemudian di eksekusi
bersama-sama di kamar mandi? Terus bagaimana dengan korban yang tidak terlihat
ada bekas tembakan sama sekali? Mungkin analisa bisa mengarah tentang
kemungkinan rekayasa beberapa orang sudah di habisi terlebih dahulu oleh
Densus88 dan melalui tembok yang dilubangi dan di tengah kegegelapan malam
kemudian jenazah tersebut di masukkan?" katanya.
Sedangkan terkait penyergapan Dayat, Kata Harist, penelusuran CIIA mendapatkan
fakta lapangan yang cukup menggelikan.Tidak lain karena ada dua pengakuan
yang berbeda (kontradiksi diametrikal) dari dua (2) orang petugas, satu dari
aparat Densus88 dan yang satu lagi dari Polda.
Pengakuan seorang anggota Densus88 berinisial "D", dalam kasus
penindakkan terduga teroris Ciputat dikabarkan ada seorang anggota Densus88
tertembak. Tidak lain yang dimaksudkan adalah si "D" ini. Dia
tertembak di bagian lutut sebelah kiri dan paha sebelah kanan bagian dalam
terserempet peluru.
Menurut "D", sekira pukul 19.00 WIB di jalan dari arah kontrakan
terduga teroris keluar dua orang berboncengan naik sepeda motor. Di tengah
temaram kegelpan tersebut dari jarak sekira 15-20 meter dia mendapatkan kode
dengan gerakan tangan dari tim Densus88 lain bagian identifikasi dan memasok
informasi kepada tim penindak.
Si "D" sendiri sudah sejak pagi hari duduk untuk menyanggong di jalan
arah rumah kontrakan tersebut dengan bekal foto Dayat cs hasil surveilance tim
Intelijen Densus88.
Nah, ketika si “D” mendapat info bahwa yang naik motor adalah Dayat (target)
dan yang dibonceng adalah Iwan (tetanga kontrakan), maka serta merta si
"D" yang melihat wajah Dayat mencoba menghadang menyetop laju motor.
Tapi laju motor makin ngebut, kemudian si "D" ambil posisi menyamping
di kanan motor. Dan pengakuan "D", motor akhirnya direm Dayat,
sementara posisi “D” di kanan motor.
Saat motor berhenti itulah Dayat menendang anggota Densus88 ini, sampai si “D”
jatuh karena tendangan. Di saat dia hendak bangun dari jatuh tersebut, ia
mendengar beberapa kali tembakan dan ia merasakan kakinya bagian lutut kiri
kena tembakan. Sesaat berikutnya si "D" mencabut pistol yang
dipinggangnya kemudian ia lepaskan tembakan ke arah Dayat, dan Dayat roboh
tersungkur.Setelah itu si “D” teriak meminta bantuan ke kawannya bahwa ia kena
tembakan. "D" tidak tahu lagi bagaimana jalan cerita penyergapan
berikutnya, yang ia ingat Iwan yang membonceng dibelakang motor lari ke belakang.
Dari keterangan pihak Mabes dengan menggelar barang bukti (BB) ditunjukkan ada
Pen Gun (Pistol berbentuk bolpoin), Pen Gun inilah yang dipakai Dayat untuk
menembak “D” aparat Densus88 saat penyergapan. Menjadi ganjil, proyektil peluru
ada di lutut bagian kaki kiri “D”.
Lantas paha kanan bagian dalam terserempet puluru dari mana? Jika tembakan itu
tembus dari lutut kiri ke arah paha kanan tentu proyektil peluru tidak mungkin
bersarang di bagian lutut kaki kiri. Sayang proyektil peluru tersebut belum pernah
dibuka apakah benar itu adalah keluar dari Pen Gun yang dipakai oleh Dayat.
Pengakuan “D” bertolak belakang 180 derajat dengan salah satu anggota Polda
yang terlibat penyergapan Dayat. Anggota ini berinisial “Dn”, dari penelusuran
CIIA, didapat pengakuan si “Dn” di detik-detik penyergapan Dayat. Di fase
persiapan sebelum pengepungan dalam formasi “L”, si “Dn” dapat informasi kalau
Dayat keluar naik motor bebek berdua.
Dalam kondisi tidak terduga itu kemudian “Dn” bergegas lari menuju jalan yang
hendak dilalui Dayat. Dengan bekal foto Dayat dengan ciri khas berkacamata,
"Dn" mencoba menghadang motor yang lewat. Menurut pengakuan “Bn”,
motor pertama yang lewat bukan Dayat, sampai akhirnya motor ke tiga dari jarak
pandang 3-4 meter “Dn” melihat wajah Dayat naik motor bagian depan dengan kaos
biru berkacamata (yang dibonceng bernama Iwan).
Maka saat itu “Dn” bersama salah seorang anggota CRT (Crisis Respon Team/
Densus88) mengejar Dayat, dan kemudian “Dn” mendorong Dayat hingga jatuh ke
kiri.Dan setelah jatuh sesaat kemudian Dayat mau mencabut senjata, saat itu
dengan cepat "Dn" kemudian menubruk Dayat bergumul untuk merebut
senjata Dayat.Kemudian terdengar tembakan dan "Dn" merasakan perih
bagian dada dan kakinya, kemudian “Dn” memutar badan ke kiri menjauhi Dayat
selanjutnya ia melihat Dayat di berondong oleh anggota yang lain.
Saat "Dn" mencegat, kurang lebih ada 20-an orang anggota yang merapat
ke arah "Dn" untuk backup, tapi hanya sekitar 4-5 orang yang maju
kemudian memberondong Dayat paska bergumul dengan “Dn” untuk merebut senjata
Dayat.
Logikanya dua pengakuan di atas tidak mungkin keduanya benar, ada salah satu
yang benar atau ada salah satu yang dusta. Atau mungkin kedua-duanya salah atau
ekstrim lagi kedua-duanya benar.
Kata Harist, sangat wajar jika selalu muncul pertanyaan, kenapa terduga harus
di eksekusi mati, sementara ada kondisi-kondisi yang memungkinkan terduga cukup
dilumpuhkan dan bisa diseret di pengadilan untuk pembuktian, benarkah semua
narasi Polisi selama ini tentang mereka dengan semua perannya. "Saat ini
publik sudah cerdas dan bisa menilai sendiri," tegasnya.