![]() |
| ilustrasi |
British Medical Journal (BMJ) meneliti ratusan percobaan yang dilakukan
sekitar 340.000 pasien untuk meninjau manfaat olahraga dan obat. Aktifitas fisik disebutkan justru melebihi manfaat obat jantung dan stroke.
Temuan itu menunjukkan olahraga harus dimasukkan ke dalam resep pengobatan,
kata para peneliti.
Para pakar menekankan pasien tidak boleh mengganti obat dengan olahraga
namun harus melakukan keduanya.
Saat ini sangat sedikit orang dewasa yang melakukan olahraga cukup.
Hanya sepertiga orang di Inggris yang melakukan olahraga selama 2,5 jam
setiap minggu seperti yang direkomendasikan, termasuk naik sepeda atau berjalan
cepat.
Penggunaan obat dengan resep justru meningkat.
Kurangi risiko stroke
"Aktifitas fisik
ringan, misalnya, dapat mengurangi risiko stroke sampai 27%."
Saat ini diperkirakan terdapat 17,7 resep untuk setiap orang di Inggris
pada tahun 2010, dibandingkan dengan 11,2 pada tahun 2.000.
Para ilmuwan yang melakukan penelitian ini termasuk dari London School of
Economics, Harvard Piligrim Health Care Institute di Fakultas Kedokteran
Harvard serta Universitas Stanford.
Mereka meneliti sejumlah penyakit termasuk gangguan jantung, rehabilitasi
stroke, gagal jantung dan pradiabetes.
Obat-obatan diuretic disimpulkan bagus untuk pasien gagal jantung sementara
olahraga merupakan langkah terbaik untuk pasien stroke terkait dengan angka
harapan hidup mereka.
Dr Peter Coleman dari Asosiasi Stroke mengatakan olahraga cukup disertai
obat teratur memegang peranan penting. Namun penelitian lebih lanjut
diperlukan.
"Kami memerlukan penelitian lebih lanjut terkait manfaat panjang
olahraga bagi pasien stroke," kata Coleman.
"Dengan mengambil langkah penting seperti berolahraga secara teratur,
konsumsi makanan sehat, berhenti merokok, maka orang dapat mengurangi risiko
stroke secara signifikan," tambahnya.
"Aktifitas fisik ringan, misalnya, dapat mengurangi risiko stroke
sampai 27%."
