LIBASS - Pada 9 Oktober 1967, 46 tahun
lalu, sebuah perintah dikeluarkan Presiden Bolivia Rene Barrientos. Ia
memerintahkan Che Guevara dibunuh.
![]() |
| Sergeant Mario Terán |
Mario Teran, seorang sersan yang
kecanduan alkohol dan diliputi dendam karena 3 rekannya tewas di tangan tentara
gerilya Guevara, menawarkan diri jadi eksekutor. Ia memasuki pondok tempat Che
ditahan.
Dikisahkan, Che kala itu berdiri,
mengucap kalimat terakhirnya: "Aku tahu kau datang untuk membunuhku.
Tembak. Lakukan. Tembak, pengecut! Kau hanya akan membunuh seorang pria."
Teran
akhirnya melepas tembakan dari senapan semi-otomatis M1 Garand di tangannya.
Pertama di lengan dan kaki Che yang menggeliat dan menggigit pergelangan
tangannya menahan sakit.
Tembakan kembali diletuskan, di dada, juga
tenggorokan. Total 9 tembakan. Che Guevara dinyatakan meninggal dunia pada
pukul 13.10 waktu setempat. Di usia 39 tahun.
Meski
berakhir tragis, Che menjadi legenda, tokoh revolusi dan perlawanan, hingga
simbol dalam budaya populer. Namun, hingga saat ini, mantan agen CIA yang ikut
menangkap Guevara tetap berpendapat, revolusioner Marxis itu tak layak dipuja.
Felix Rodriguez, nama agen CIA
itu mengatakan, Che tak lebih dari kriminal dan pembunuh.
![]() |
| Felix Rodriguez |
"Aku
yakin pada akhirnya orang akan tahu siapa dia sebenarnya. Dia seorang
pembunuh," kata dia seperti dikabarkan situs Newsmax,
8 Oktober 2013. "Dia hanya punya sedikit penghargaan pada hidup. Ia
menikmati membunuh orang."
Dalam wawancara dengan Newsmax,
Rodriguez -- sebagai orang pertama -- menyampaikan detil penangkapan hingga
eksekusi Guevara.
Rodriguez,
keturunan Kuba-Amerika kala itu direkrut dan dilatih sebagai ketua tim
pelacakan Guevara yang menjadi instrumen Revolusi Kuba Fidel Castro. Ia
mengaku secara langsung berbicang dengan militer yang pernah melatih Che.
"Kami
mendapatkan kisah dari orang yang pernah melatihnya di Meksiko, dia orang
Kuba," kata dia. Kata orang itu Che suka membunuh. "Suatu hari
Guevara bertanya, 'Bagaimana rasanya menembak orang dan melihat darah mengalir
dari tubuhnya'," kata Rodriguez.
Pengejaran
berakhir Minggu 8 Oktober. Diawali baku tembak yang melukai kaki kanan Che.
Terluka, lalu tertangkap, menurut Rodriguez mengatakan, Guevara masih ingin
menyelamatkan dirinya sendiri.
"Tentara
yang menangkapnya mengatakan, saat Guevara bertatap muka dengan mereka, ia
berkata, 'Jangan tembak, aku Che. Aku lebih berharga untukmu hidup-hidup
daripada mati'," kata Rodriguez.
Jelang
Eksekusi Mati
Guevara
lalu ditangkap dan dibawa ke Prado, tempat dia ditahan di sebuah gedung sekolah
tua. Rodriguez akhirnya naik helikopter untuk menemuinya.
"Perasaanku
campur aduk saat itu...saat aku melihatnya untuk kali pertamanya. Aku merasa
kasihan," kata dia. "Ia seperti pengemis. Tak pakai seragam, tak
pakai sepatu, hanya selembar kulit di tubuhnya. Jauh dari penampilannya saat
berkunjung ke Uni Soviet dan China."
Kolonel
Zenteno yang pergi bersama Rodriguez, menginterogasi Guevara. Namun Che tak
menjawab. Ia ada di lantai dalam kondisi terikat, jasad 2 gerilyawan Kuba ada
di depannya.
"Aku
berdiri di depannya dan berkata, 'Che Guevara, aku datang untuk bicara
denganmu'," kata Rodriguez.
Rodriguez
mengatakan Che punya alasan memilih Bolivia sebagai tempat gerilya. "Satu,
itu jauh dari Amerika Serikat.
Kedua, itu adalah negara yang sangat miskin
sehingga ia tidak merasa bahwa Amerika Serikat akan memiliki banyak kepentingan
dengan Bolivia.
Dan ketiga yang paling penting baginya, itu berbatasan
dengan lima negara yang berbeda." Setelah Bolivia, Guevara mengincar
Argentina, Brasil, Chili, Peru.
Sebagai
agen CIA, Rodriguez diperintahkan menjaga Che Guevara tetap hidup. Namun,
kemudian ia mendapat perintah dengan kode rahasia: 500 dan 600. '500' adalah
kode untuk Guevara, sementara '600' artinya bunuh dia!
Rodriguez
mengatakan, saat Guevara tahu ia akan dieksekusi, wajahnya menjadi putih pucat.
Dan ia berkata, "Lebih baik seperti ini, aku seharusnya tidak pernah
ditangkap hidup-hidup."
Che lalu
menarik pipa dari punggung, mengatakan, ingin memberikannya pada tentara yang
memperlakukannya dengan baik.
Saat
ditanya, apa pesan terakhirnya, Rodriguez mengatakan, Che menjawab, "Jika
kau bisa, katakan pada Fidel (Castro), ia segera akan menyaksikan kemenangan
revolusi di Amerika."
Lalu,
Rodriguez menambahkan, ekspresi Che berubah. Dan ia berkata, "Jika bisa,
katakan pada istriku untuk menikah lagi dan mencoba untuk hidup bahagia."
Itu kata-kata terakhirnya Guevara pada Rodriguez.
"Ia
mendekatiku, kami bersalaman, dan berpelukan. Dia lalu berdiri, mengira aku
akan menembaknya," kata Rodriguez.
Perkirakaannya
salah, Rodriguez meninggalkan ruangan, dan 2 menit kemudian suara tembakan
terdengar.
Guevara
akhirnya tewas. Ia yang tak percaya Tuhan, diberkati oleh seorang imam Katolik, sehari
setelahnya, sebuah rapat digelar militer Bolivia, dipimpin Jenderal Ovando
Candia.
Salah satu kolonel mengatakan, Castro tak percaya Guevara tewas dan
meminta agar kepalanya dipenggal dan diawetkan dalam formalin.
Tapi
Rodriguez menolak. "Aku berkata saat itu, 'jangan jenderal, Anda tak bisa
melakukannya'." Jenderal itu balik bertanya mengapa tidak? Apalagi Castro
selalu membantah.
![]() |
| Che Guevara & Fidel Castro |
"Anda
tak bisa memenggal kepala seorang manusia dan menjadikannya bukti," jawab
Rodriguez kala itu. Lalu ia menyarankan untuk memotong salah satu jari Che
sebagai bukti mencocokkan sidik jari.
Tapi sang jenderal malah memutuskan untuk
memutilasi dua tangannya. Guevara dikubur tanpa tangan.
Rodriguez
menyayangkan bagaimana Guevara lantas menjadi ikon budaya populer, gambar di
kaus dan stiker. Anak-anak muda memakainya tanpa tahu siapa dia.
"Di
Paris, misalnya, ada pemuda memakai kaus Che Guevara, saat ditanya siapa yang
terpampang di pakaiannya, ia menjawab, 'Penyanyi rock'," kata Rodriguez.
Ia
melanjutkan, "Padahal orang ini (Che) adalah kriminal. Ada banyak catatan
yang bisa dicek, ia berkata berulang kali, seandainya dia punya bom atom ia
akan melemparkan ke New York.
Untuk menerapkan sosialisme di AS, dia menilai,
layak untuk mengorbankan jutaan rakyat AS"


