Suatu ketika saya hendak Sholat Idul
Fitri, saya diberondong pertanyaan beruntun.
“Kang?,” kata sang penanya, "misalnya ada waktu bersamaan tiba-tiba akang
menghadapi tiga pilihan yang harus dipilih salah satu, pergi ke masjid untuk shalat IED, mengantar pacar
belanja di Mall, atau mengantar tukang ojek miskin ke rumah sakit akibat ditabrak
lari, mana yang akang pilih?,”
Tanya ia.
Saya menjawab
lantang, "Ya nolong tukang ojek yang kecelakaan. Tapi akang berdosa karena
tidak sembahyang !,” kejar si penanya.
"Ah, masa Tuha egois,” jawab saya.
"Kalau saya
memilih shalat IED, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak" ,
kata saya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang
memperlakukan sembahyang sebagai credit
point pribadi".
Menurut saya,
apabila kita menjumpai orang yang pada saat itu harus ditolong, Tuhan tidak
berada di masjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu.
Tuhan
mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang, Kata Tuhan:
·
kalau engkau menolong orang sakit,
akulah yang sakit itu.
·
Kalau engkau menegur orang yang
kesepian, akulah yang kesepian itu.
·
Kalau engkau memberi makan orang
kelaparan, akulah yang kelaparan itu.
Seraya bertanya balik, Saya berujar, "Kira-kira Tuhan suka, denganorang-orang
ini:
·
Pertama, orang yang shalat lima
waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.
·
Kedua, orang yang tiap hari
berdakwah, shalat, hapal al-quran,menganjurkan hidup sederhana, tapi dia
sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.
·
Ketiga, orang yang tidak shalat,
tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?”
Kalau saya, ucapku, memilih orang yang ketiga.
Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun
masjid.
Kalau korupsi uang
rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya.
Kalau korupsi uang
rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan.
Sedang orang yang
suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang
sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.
Kriteria kesalehan
seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya, standar kesalehan seseorang tidak
melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolak ukur
kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya.
kasih sayang
sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi,
membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut
kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan
berkasih sayang.
Agama adalah
akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu
mengajarkan kesantunan, belas kasih,dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma
puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura dan wihara,
menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat
bersamaan kita tidak mencuri uang yang bukan hak nya, menyantuni fakir miskin,
memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama. Ukuran
keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan
diukur dari kesalehan kehidupan sosialnya.
Orang
beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama
ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya
solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak
mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan
sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke
lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.
Keberagamaan Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW
mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang
hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab
singkat, "Ia di neraka".
Hadis ini
memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup. Ibadah ritual
mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus
melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial. Hadis di atas juga ingin
mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra
baik dihadapan orang lain.
Hal ini sejalan
dengan definisi keberagamaan membagi dua macam cara beragama: kemunafikan dan keimainan.
·
Yang pertama, “kemunafikan”, memandang agama sebagai sesuatu yang dapat
dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status
darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih
keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama
demi status dan harga diri.Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.
·
Yang kedua, “Keimanan”, adalah
cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan
ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi
nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua
ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah
penghayatan batin kepada Sang Pencipta.
Keberagamaan yang dilandasi “keimanan”, Adalah
cara beragama yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih
sayang. Dan mampu menciptakan kebahagiaan dalam dirinya, lingkungan sosialnya,
serta ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual keagamaan tersebut.
Keberagamaan yang
dilandasi “kemunafikan”, Adalah cara beragama yang melahirkan sifat egois, tidak
tulus,serta menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Dan sikap
beragama ini memunculkan sikap hipokrit.
Syaikh Al Ghazalidan Sayid Qutuhb pernah berkata, ”Kita ribut
tentangBid’ah dalam Shalat dan Haji, tetapi dengantenang melakukan Bid’ah dalam
urusan ekonomidan politik”. Dan sifat egoisme, bertanggungjawab atas
kegagalan manusia menuju kebahagiaan, Kebahagiaan tidak terletak pada
kesenangan diri sendiri, Kebahagiaan terletak pada kebersamaan.
Kita beragama tetapi
dengan tenang melakukan korupsi, pembunuhan, kekerasan, pemerkosaan, pencurian,
dan penindasan. Indonesia, sebuah negeri yang katanya Agamis, tetapi pada
kenyataannya, merupakan negara yangpenuh
pertikaian dan pemerkosaan hak-hak.
Betapa banyak umat Islam disibukkan
dengan urusan ibadah “mahdhah” (ritual), apalagi
dihari yang Fitri dan penuh kemenangan
ini. Tetapi masih banyak yang mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit,
kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara
mereka.
Betapa banyak
dinegri tercinta ini orang kaya, yang
dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah,sementara di sekitarnya
tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.
kita kerap melihat jutaan uang
dihabiskan untuk upacara-upacara Kenegaraan dan keagamaan, di saat jutaan anak
di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah.
Jutaan uang
dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat jutaan orang tua
masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi.
Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang
kali, di saat jutaan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat
membayar biaya rumah sakit. (RML)